Monday, November 11, 2013

Menjadi Seniman Hanyalah Kepuasan

Menjadi Seniman Hanyalah Kepuasan

Standar
Menjadi Seniman Hanyalah Kepuasan SGB-BENGKAYANG. SOSOK-seniman begitu mencintai budaya hingga mengabdikan dirinya sebagai pekerja seni. Alhasilnya pemberian apresiasi kepada para seniman pun mulai terabaikan oleh pemerintah itu sendiri, seolah-olah keinginan untuk mengembangkan budaya tidak menjadi agenda perioritas.
Belarminus Piter Petrus Lengkong, nama lengkapnya, memiliki talenta sejak berusia 15-tahun sudah menunjukan bakatnya kepada publik sebagai seniman. Hal ini terinspirasi oleh kakeknya yang juga sebagai pencinta seni yakni sebagai pemahat patung “Pantak” yaitu sebuah patung yang digunakan sebagai alat upacara adat suku dayak dan diyakini memiliki kekuatan pada saat acara ritual adat suku Dayak yang disebut Nyangahatn. “Hanya saja saya tidak diajarkan langsung, melainkan hanya memperhatikan bagaimana kakek saya membuatnya. Selanjutnya adalah otodidak,” Ungkap Petrus Sabtu (12/10/2013)
Lelaki kelahiran 25 Desember 1943 itu bercerita meskipun sudah mengabdi puluhan tahun sebagai pekerja seni (Seniman-Red) sehingga kerap membawa nama harum daerah kelahirannya hingga ke manca Negara. Namun apa yang Ia peroleh tidak sebanding dengan kondisi hidupnya yang belum layak sebagai seorang seniman. Meski demikian Dia tidak pernah berhenti untuk berkarya.
Lanjut Petrus, awalnya Ia hanya tertarik pada seni melukis dengan konsep Land-Scape yang menceritakan alamiah kepada generasi penerus bagaimana menjaga dan melestarikan alam. Ketertarikan itu dilandasi karena dirinya mencintai alam dan ingin menyatu dengan alam. Dia memandang alam juga mengandung unsur kesenian dan budaya. Dan itu banyak luput dari perhatian manusia yang hanya menjadi perusak alam. “Setelah melihat banyak sekali pemandangan alam yang indah di sekitar tempat tinggal saya. Inspirasi pun tertuang pada lukisan,” Ungkapnya.
Sebagai Veteran Petrus berbagi pengalaman jika dirinya juga seorang militer pada 1969 saat konfrontasi Malaysia dan bertugas di Batalyon Infanteri 642 Kabupaten Sintang. Masuk tentara dengan pangkat ‘Tamtama’ ternyata tidak membuat dirinya meninggalkan hobi menjadi pelukis, kapan saja, dimana saja selalu terlihat Ia melukis.
Menurutnya, ketika berperang dengan ‘PGRS/Paraku’ atau pemberontak di Lanjak, kabupaten Kapuas Hulu, salah satu temannya tertembak musuh. ”Saya menyaksikan sendiri bagaimana teman saya tertembak. Kemudian saya lukis bagaimana keadaannya sambil berlindung, sehingga ada laporan untuk komandan,” Kata Petrus membuka memori.
Tragedi itu tidak sekedar ingatan, melainkan goresan kuas di atas kanvas karena setiap hasil karya lukisannya itu memiliki pesan pesan moril. Mengajak masyarakat untuk selalu menjaga kelestarian alam dan lingkungan. Ada sekitar 100 lukisan yang telah dia ciptakan dari tangan terampilnya itu. Setelah itu barulah dirinya terjun sebagai pemahat patung. “Meski demikian, saya tidak meninggalkan bidang lukis itu. Justru dua bidang itu saya kerjakan sekaligus,” tutur Petrus tersenyum.
Dalam hal membuat patung, Petrus selalu memberikan makna disetiap pahatannya. Misalnya Pantak, Menurutnya ada tiga patung sebagai penjaga penjuru perbatasan, penjaga lumbung padi, dan untuk Nyangahatn. Setidaknya itu menjadi kepercayan karena merupakan tradisi turun temurun nenek moyang Suku Dayak. Tidak secara ritual tapi lihatlah dari sudut keindahan, makna dan keseniannya.
Namun tidak mudah bagi Petrus untuk menghasilkan karya patung yang indah.
Diperlukan waktu dan konsentrasi. Hanya ketika dirinya mendapat inspirasi ketika itulah secara otomatis Ia memahat patung. Tak cukup sampai disitu, Petrus kemudian mengembangkan kesenian yang lain, yaitu seni tarian. Dia menciptakan sendiri tarian itu dan uniknya dia belajar dari seekor burung Enggang “Manug Alo” Itu ketika dirinya sedang berjalan sendiri di hutan dan itu dia pelajari selama satu tahun. “Mulai dari gerak kepala, badan dan kaki burung itu saya perhatikan, kemudian saya tuangkan pada setiap tarian,” Tutur lelaki keturunan suku dayak Bakatik Rara ini.
Menurutnya, Tarian Enggang cukup unik dan mengandung banyak filosofi. Orang-orang dayak menerapkan filosofi itu dalam hidup menggambarkan Cinta kasih sayang kepada keluarga dan anak anak, juga orang lain. “Kalau saya menerapkannya dalam gerakan tari,” jelas lelaki berambut panjang dan mudah tersenyum kepada setiap orang.
Selain itu Petrus juga membuat beberapa kerajinan tangan. Seperti tas, perisai dengan motif dayak, baju tradisional dayak, vas bunga dan lain lain. Semua barang kerajinan itu dibuat dari bahan dasar kulit kayu. Berbagai prestasi berhasil diraihnya ketika mengikuti pameran pameran budaya. Mulai dari lokal, nasional bahkan menjajal sampai ke luar negeri hingga manca Negara. Seperti Jerman, Belanda, Jepang dan Tiongkok. Bahkan beberapa patung hasil karyanya itu sudah sampai di Eropa. “Saya hanya bisa menikmati saja, kalau bukan karena seniman mana mungkin saya bisa keluar negeri,” Kata Petrus Bangga.
Berdasarkan hasil pantauan SIAGA.CO kondisi kehidupan seniman yang sudah mengabdikan hidupnya selama puluhan tahun sebagai pekerja seni, dan telah mampu membawa nama kota kelahirannya ke manca negara, aneh bin ajaib kehidupannya biasa-biasa saja dengan kata lain tidak memiliki apa apa.
Jangankan Galeri rumah pun dirinya tidak punya. Ironisnya, kondisi itu tidak melemahkan semangatnya untuk berhenti berkarya. Justru menjadi motivasinya untuk terus membuat karya seni. “Saya memang tidak memiliki apa apa, namun pesan saya teruslah berkarya dan melestarikan kesenian tradional dayak di Kalimantan Barat, Kabupaten Bengkayang pada khususnya harus dihormati dan dihargai oleh generasi penerus,” Pesan Petrus mengakhiri. (Jamli Panago)

Thursday, November 7, 2013

SMA NEGERI 1 DAWARBLANDONG

SMAN 1 Dawarblandong terletak di kecamatan Dawarblandong, ujung paling utara Kab. Mojokerto, berbatasan dengan kecamatan Balongpanggang, Kab.Gresik dan kecamatan Mantup, Kab.Lamongan. SMAN 1 Dawarblandong berdiri pada tahun 2002, dan masih menempati lokal dari SMPN 1 Dawarblandong, baru pada tanggal 31 Desember 2002 menempati lokal sendiri sebanyak 4 lokal. Sekarang SMAN 1 Dawarblandong yang beralamat di Jl. Jon Djarot Subiantoro dengan no. Telp. 031 7922010, telah memiliki 12 lokal, 1 lab. IPA, perpus, ruang guru, lab. Komputer, ruang Kepala Sekolah dan 2 kanting yang bersih. Sekarang SMAN 1 Dawarblandong di asuh oleh 34 guru dan 7 staf TU dan karyawan. Pertama kali SMAN 1 Dawarblandong dipimpin oleh Drs. Zainal Abidin (Alm) dan sekarang Dra. Hj. Titiek Wuriyanti, MM dengan jumlah siswa 485 orang.
VISI, MISI DAN TUJUAN
A. Visi Sekolah
Visi SMA Negeri 1 Dawarblandong ialah: “ CITRA BERIMAN “
Mempersiapkan anak didik SMA Negeri 1 Dawarblandong yang Creatif, Terampil yang memiliki keunggulan dan kemantapan akademik serta Berjiwa Relegius, Intelektual guna mempersiapkan diri menjadi manusia yang Mandiri.
Indikator Visi tersebut antara lain:
v Unggul dalam prestasi
v Unggul dalam kecakapan hidup dan life skill
v Unggul dalam pengembangan budi pekerti lihur
v Unggul dalam pengembangan iman dan taqwa
v Unggul dalam mengembangkan diri manjadi manusia yang mandiri
B. Misi Sekolah
Sebagai penjabaran visi tersebut maka misi SMA Negeri 1 Dawarblandong Mojokerto sebagai berikut:
1. Mengoptimalkan potensi dengan menyelenggarakan proses pendidikan yang konduktif.
2. Mengupayakan terwujudnya manusia yang sempurna secara kodrati berlandaskan keimanan dan ketakwaan serta berbudi pekerti luhur.
3. Mengembangkan sikap kompetitif yang kooperatif untuk mendapatkan petunjuk dan bekal guna menghadapi tantangan di masa depan.
4. Menumbuhkan kreatifitas guru dan siswa untuk lebih mengembangkan potensi yang dimiliki
C. Tujuan Sekolah
Untuk mewujudkan visi dan misi tersebut maka tujuan pendidikan di SMA Negeri 1 Dawarblandong Mojokerto dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Meningkatkan kualitas SDM bagi tenaga pendidik agar lebih professional dan berkelayakan sesuai dengan disiplin ilmu dan bidang tugasnya.
2. Membantu membangkitkan segala potensi peserta didik dan membimbing untuk mengembangkan potensi yang ada sehingga memiliki sikap kompetitif yang kooperatif guna menghadapi tantangan masa depannya.
3. Memenuhi sarana dan prasarana dalam kegiatan belajar mengajar untuk menunjang program yang telah dicanangkan. Dalam hal ini adalah sarana prasarana penunjang.
4. Meningkatan kerja sama dengan masyarakat dan lembaga yang terkait guna memperoleh dukungan positif terhadap program yang telah dicanangkan.

Thursday, October 31, 2013

Karya Anak SMA Indonesia di Galeri Nasional Jakarta

Bangsa iIndonesia adalah bangsa yang kaya akan budaya seninya.
Dimulai dari yang sederhana sampai luar biasa yang bisa kita nikmati dan bisa kita banggakan.
Ini di mulai dari hasil karya anak sekolah yang nanti akan memberi motivasi pada kita semua.

 

  JAKARTA, SATUHARAPAN.COM - Dua ratus karya seni rupa dari 23 propinsi di Indonesia tampil dalam Gelar Seni Rupa Anak Indonesia 2013. Gelar Seni Rupa Anak Indonesia 2013 ini dibuka Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan, Wiendu Nuryanti, mengambil tema "Sana Sini Seni Budayaku" di Galeri Nasional Jakarta berlangsung dari hari  Sabtu, 29 Juni - Minggu, 14 Juli 2013.
Tema "Sana Sini Seni Budayaku" dipilih untuk mencoba melihat kedalaman anak-anak Indonesia dalam menginterprestasikan atau memaknai tentang konsep budaya. Pameran ini diikuti  peserta setara dengan playgroup, sekolah dasar,sekolah menengah pertama, dalam lingkup pendidikan formal maupun non formal dari pelbagai wilayah seperti Jawa, Sumatera, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Kurator Citra Smara Dewi mengatakan,"Mengangkat nilai-nilai budaya pada karya seni rupa perlu ditanamkan sejak dini pada anak-anak, antara lain melalui jalur pendidikan. Pendidikan adalah proses enkulturasi yang mempunyai peran strategis dalam mewariskan nilai-nilai termasuk di dalamnya nilai seni budaya. Fungsi pendidikan budaya dan karakter bangsa pada anak-anak sangat penting sebagai pondasi dalam mempersiapkan anak-anak menghadapi derasnya arus globalisasi."
Sementara menurut Kuss Indarto,"Melukis bagi anak-anak memang sebaiknya diposisikan sebagai bermain, bukan bekerja, atau apalagi sebagai beban. Ketika unsur bermain menipis dalam praktek seni rupa anak-anak maka spontanitas, ekspresi, kreatifitas, dan dunia imajinasi akan terpinggirkan."
Perhelatan seni rupa anak ini mempunyai keterbatasan ruang sehingga menjadikan proses seleksi dan kurasi  menentukan karya yang dipamerkan selain kemungkinan ideal menyimak sebuah pameran yang mendekati ideal.Walau di dalam proses aplikasi dan seleksi tidak dihasratkan sebagai sebuah kompetisi yang berujung  penentuan pemenang atau juara.
Lain lagi dengan Yuswantoro Adi, seorang kurator, pelukis, dan pengajar Art For Children Taman Budaya Yogyakarta. Menurutnya, hakikat pendidikan seni rupa anak adalah ruang bermain bagi anak untuk mengembangkan dirinya lewat kesenian. Ruang yang baik adalah ruang luas yang terbuka sehingga membuka segala kemungkinan.
"Keluasan dan keterbukaan dalam konteks pembicaraan ini ada tiga hal. Ketiganya saya sebuat sebagai tiga ang, yakni senang, kembang, dan kenang. Senang, siapapun yang mengikuti pendidikan seni rupa sudah barang tentu adalah anak yang senang menggambar pada awalnya. Kembang, ruang ini harus menyediakan alat, bahan sarana, prasarana, fasilitas, serta kesempatan agar anak bisa berkembang dan mengembangkan dirinya. Kenang, jadikanlah ruang ini sebagai sesuatu yang kelak akan terus dikenang anak." Kata Yuswantoro Adi.        
Selain karya berwujud lukisan turut dipamerkan pula karya seni tiga dimensi hasil daur ulang sampah, pelbagai dolanan tradisional anak, permainan kertas, dan workshop seni rupa. Turut berpartisipasi dalam perhelatan ini pelbagai sanggar seni anak seperti Art For Children Taman Budaya Yogyakarta, Sanggar Daun Surabaya, Rumah Seni Adhi Cita Bandung, Sanggar Seni Barudak Sukabumi, dan Studio Dusun Delod Margi Bali.